Bagi Pemula yang Ingin Investasi di Kripto, Jangan Gunakan Uang Panas

Influencer Bobby Chen mengatakan, investasi kripto harus tahu risiko dan tujuan kita apakah mau investasi longterm atau trading. Kemudian harus menggunakan uang dingin bukan uang panas (uang pinjaman) dan yang penting bagaimana money management dilakukan dan juga benar benar tau kita investasikan uang kita di kripto apa dan untuk apa projeknya. “Jangan pernah pakai uang panas, karena kripto adalah investasi yang berisiko artinya pergerakan harganya sangat volatile sekali, jadi bisa naik dan anjlok hanya dalam semalam," kata influencer dengan 117.000 lebih follower di Tiktok dan Instagram ini, Rabu (2/2/2022).

"Tidak ada yang tau pasti mana yang akan terjadi. Sekali lagi yang penting adalah money management kita dan kalau kita lihat sejarahnya di Januari itu memang banyak merahnya, dan mulai bullish bulan Februari dan April,” ucap Bobby yang dikenal sebagai Crypto and NFT Investor, Mindset Motivator, Enterpreneur, dan Content Creator ini. Saat ini Bobby Chen fokus ke crypto dan NFT, bahkan kini dalam waktu sekitar 6 bulan saya bisa membuat komunitas crypto sebanyak 20 ribu anggota di Telegram dengan topik ‘Diskusi Crypto & Saham’. Bobby menyarankan investor selalu tahu apa tujuan berinvestasi.

Harga yang naik kalau kita tidak take profit itu hanya ‘angka’ saja. Kalau mau trading harus set target take profitnya dan cutloss nya, tapi kalau mau investasi long term harus bisa melihat jauh ke depan berdasarkan projek dan progress dari project crypto tersebut. “Jadi harus jelas tujuan kita mau trading atau investasi longterm karena banyak orang niatnya trading waktu harga naik nggak di take profit bilangnya mau jadi ‘invest long term’, tapi waktu turun malah marah marah, dan menyesal sendiri,” sambungnya. Kata Bobby lagi, kripto dulu dan sekarang berbeda.

Sekarang banyak kripto yang kita bisa melihat dan analisa fundamentalnya. Contohnya kripto yang memiliki proyek game, metaverse dan lainnya. Biasanya projek projek ini mencari funding lewat kripto sebab jika IPO ribet, jadi kita sebagai investor seperti beli saham perusahaan “startup” tapi memang jauh lebih high risk. "Jadi terakhir dia berpesan sekali lagi kita harus benar benar tau resiko dunia crypto dan crypto apa yang kita beli sebelum kita berinvestasi di crypto tersebut," katanya.

Bobby terbuka menyebut dia membeli Raca yang dalam beberapa bulan naik sampai 30 kali lipat. Kemudian dia juga membeli Mana (Decentraland), Shiba Inu, Baby Doge Coin, Matic Solana, dan lain lain. Menurut Bobby, investasi itu yang tepenting adalah pola pikir, dan kalau investasi kripto maunya kaya instan tentu sangat sulit.

“Contohnya waktu saya beli Raca itu kan saya beli di Rp 8, lalu ternyata bukannya naik tapi sempat drop ke Rp 4 sampai sekitar 2 bulan lamanya, saya hold dan melakukan teknik DCA saja karena melihat dari projek yang dibuat kripto tersebut masih bagus dan berjalan, lalu dalam beberapa bulan ternyata naik sampai hampir 30 kali lipat dari harga saya beli. Coba kalau saya pikirnya mau hasil instan tentu sudah cut lost dan tidak jadi mendapatkan hasil,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.