Pensiun Jadi Gubernur Tahun Tahun Depan, Anies Baswedan: Orang Bebas, Saya Mau Keliling Indonesia

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menuturkan rencananya jika purna tugas bulan Oktober tahun 2022. Anies Baswedan diketahui dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 16 Oktober 2017, yang berarti masa jabatan lima tahun Anies akan selesai pada Oktober 2022. Hal itu diungkap Anies setelah mendapatkan pertanyaan dari Wakil Ketua DPRD DKI dari Fraksi PAN, Zita Anjani yang menjadi moderator acara.

Dalam acara Workshop Nasional DPP PAN yang disiarkan di akun Youtube PAN TV, Rabu (6/10/2021), Zita Andani menanyakan rencana Anies setelah melepas jabatannya. Anies Baswedan lantas menjelaskan, ia berharap seluruh pekerjaannya di DKI terlaksana. "Oktober tahun depan, lima tahun tuntas. Saya hanya berharap semua yang dikerjakan di sini tuntas, sehingga orang percaya pada proses demokrasi. Karena saya ini calon gubernur yang tidak sengaja jadi calon gubernur."

"Bapak bapak semua tahu semua prosesnya di sini, saya tidak pernah membayangkan bahwa akan menjadi calon gubernur di Jakarta. Dan yang bekerja untuk proses pemenangan kemarin barangkali banyak di antara Bapak Ibu semua yang ikut terlibat, yang iurannya luar biasa, iuran tenaga," jelas Anies Baswedan. Lebih lanjut, Anies menuturkan rencananya keliling Indonesia setelah melepas jabatan Gubernur DKI. "Jadi yang ada di benak saya adalah ini dituntaskan bisa lapor pada umat, lapor pada masyarakat, amanat, nih namanya sama nih, amanah sudah dijalankan dengan baik. Tuntas. Nah sesudah itu saya jadi orang bebas."

"Sambil orang bebas saya menikmati keliling ke mana mana. Jadi nanti saya ingin, kalau boleh… kemarin kan tahanan kota lima tahun, jadi habis itu kalau sudah, saya keliling saja kemana mana, di Indonesia, itu kira kira," tegas Anies Baswedan. Tak hanya itu, Anies Baswedan sejatinya ingin kembali bertarung di Pilkada DKI Jakarta jika tidak diundur ke tahun 2024. Anies mengakui sudah mempersiapkan agar pada tahun terakhir masa jabatannya dimanfaatkan untuk kampanye jika Pilkada DKI masih diselenggarakan pada Tahun 2023.

“Dulu rencananya nanti tahun terakhir, (kalau ada pilkada tahun 2023), baru mulai kampanye,” ujar Anies. Namun, kata Anies, Pilkada 2022 ditiadakan seperti yang tercantum dalam UU Nomor 10 Tahun 2016 sehingga akan memanfaatkan momentum tersebut dengan terus bekerja menuntaskan program program yang sudah dicanangkan. "Ternyata enggak ada pilkada tahun depan. Jadi ya sudah, kita kerja terus saja, gitu kan. Enggak ada kampanye tahun depan. Kalau ada pilkada tahun depan kita kampanye, tetapi karena enggak ada pilkada ya sudah kita terusin saja kerja sampai akhir," kata Anies.

Analis Politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menilai nasib Gubernur DKI Anies Baswedan masih belum pasti untuk 2024. Di Jakarta, Anies dipastikan kehilangan panggung politik sebagai pejabat publik mulai tahun depan. Seperti di daerah daerah lain, Pilkada DKI Jakarta yang seharusnya diselenggarakan 2022 akan mundur ke 2024 untuk menyesuaikan dengan agenda Pilkada Serentak yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat.

Hal ini membuat peluang Anies untuk berlaga pada 2024 dinilai minim. "Rumit membayangkan 2024 termasuk untuk Anies Baswedan sekalipun," ungkap analis politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno dikutip dari Kompas.com. "Bisa enggak dia menjaga stamina dan elektabilitasnya itu, dan meraih dukungan parpol? Anies harus pandai pandai memosisikan diri agar tetap jadi idola. Itu problem terbesarnya," jelasnya.

Meskipun nama Anies kerap didengungkan sebagai kandidat potensial capres 2024, namun Adi menilai hal itu masih terlalu dini. Elektabilitas Anies diprediksi merosot karena kehilangan panggung politik selama 2 tahun. Apalagi, hingga sekarang belum banyak dukungan partai politik yang mengalir kepadanya.

Saat ini tren partai partai politik di Indonesia masih mengutamakan elitnya sendiri untuk berlaga di 2024, seperti Gerindra menjagokan Prabowo Subianto, PDI P mengunggulkan Puan Maharani, atau Golkar mengusung Airlangga Hartarto. "Kita harus lihat potensinya. Kalau enggak ada partai yang mengusung, ya lebih baik ngurusin Jakarta lagi, walaupun itu agak berat juga karena partai partai bisa jadi punya jagoan sendiri lagi." "Balik lagi ke Jakarta, itu pilihan rasional. Kecenderungan kita, biasanya kalau dia bukan pejabat publik atau politik/elit/pemimpin lembaga politik tertentu, dia akan dengan gampang dilupakan orang," ujar Adi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpotensi mendapat suara terbanyak pertama dan kedua bila keduanya maju menjadi calon presiden 2024. Dalam presentasinya, Direktur Riset SMRC Deni Irvani menjelaskan banyak faktor yang menentukan pemilih dalam hal ini responden memilih seorang calon presiden (capres). Secara psikologis, pengetahuan tentang calon presiden adalah syarat dasar bagaimana pemilih memilih.

"Pemilih memilih calon A bisa karena hanya tahu A, tidak tahu calon yang lain. Bila pemilih tahu semua calon yang bersaing maka yang menentukan bukan lagi ‘tahu’ tapi faktor lain, termasuk ‘suka’ pada calon," kata Deni saat menyampaikan hasil surveinya secara daring, Kamis (7/10/2021). Lebih lanjut, kata Deni, dalam kondisi saat ini tingkat pengetahuan publik pada nama nama tokoh calon presiden belum merata. “Pada hari H nanti, pemilih akan tahu calon calon yang maju karena jumlah calon sedikit dan biasanya sama sama mampu melakukan sosialisasi secara masif. Tidak akan ada perbedaan tingkat tahu calon bagi seorang pemilih,” ucap Deni.

Dalam survei ini, Deni mengatakan kalau pihaknya menemukan apabila responden 'tahu' nama enam calon Presiden. Mereka yakni Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dimana hasilnya menunjukkan Ganjar konsisten unggul dari calon lain di semua simulasi.

Sementara jika dipersentasekan dalam simulasi semi terbuka dengan 42 nama calon atau tokoh, maka Ganjar mendapat dukungan terbesar sebanyak 24,3 persen. "Selanjutnya disusul Anies 14,4 persen, Prabowo 11,4 persen, Sandiaga Uno 6,1 persen, Ridwan Kamil 4,2 persen, AHY 3,2 persen," kata Deni. Lebih lanjut, jika jumlah calon presiden dikurangi menjadi 15 nama maka Ganjar kembali unggul dengan dukungan 28,2 persen.

Disusul Anies 16,5 persen, Prabowo 12,4 persen, Sandi 6,5 persen, Ridwan Kamil 5 persen dan AHY 4 persen. Nama Ganjar kembali memimpin dalam simulasi pemilihan 8 nama capres. Gubernur Jawa Tengah itu unggul dengan dukungan 28,7 persen, disusul Anies 20,4 persen, Prabowo 13,6 persen, Ridwan Kamil 6,3 persen, Sandi 6,1 persen, dan AHY 4,7 persen.

Dari simulasi tersebut, SMRC melihat adanya tiga nama tokoh yang selalu berada dalam tiga besar calon presiden yakni Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan. Deni menyimpulkan jika pilpres diadakan sekarang dan pemilih sama sama tahu ketiga calon tersebut maka dalam simulasi tiga nama ini yakni Ganjar akan dipilih dengan angka 43,9 persen, disusul Anies 24,6 persen, dan Prabowo 21,7 persen. “Keunggulan tajam Ganjar dalam simulasi ini menunjukan bahwa Ganjar lebih mampu menarik pemilih calon calon selain Prabowo dan Anies,” kata Deni.

Dengan begitu, kata Deni, Ganjar dapat unggul sangat jauh sementara suara untuk Prabowo dan Anies tidak berbeda signifikan secara statistik. Hal itu mengingat adanya perbedaan di bawah margin of error untuk sampel yang tahu ketiga nama tokoh tersebut sebesar kurang lebih 4 persen. "Bila Ganjar tidak maju maka persaingan antara Anies dan Prabowo akan ketat," beber Deni.

Namun jika dilihat dari tren, Anies memiliki peluang yang lebih baik dari Prabowo. Alasannya Anies lebih mampu menarik pemilih di luar pemilih Prabowo.

Leave a Reply

Your email address will not be published.